Tampil anggun seakan menjadi hal yang wajib bagi penampilan seorang wanita, dan yang menjadi icon andalan untuk menonjolkan sisi tersebut adalah dengan menggunakan high heels. Dengan memakai high heels, kita akan merasa lebih anggun dan itu menunjang kepercayaan diri kita. Sebagai pengguna dan penyuka high heels, seringkali kaki saya terasa sakit dan pegal-pegal setelah memakai high heels. Mulai dari rasa itulah maka saya membuat artikel ini. Saya penasaran, apakah untuk menunjang penampilan, seorang wanita identik dengan menggunakan high heels yang seringkali “menyiksa” kaki kita(setidaknya, itulah yang seringkali saya rasakan apabila setelah seharian memakai high heels..hehehe). Berikut all aboout high heels yang saya dapat dari berbagai sumber..selamat membaca J
Sejarah High Heels
Siapa sangka sepatu penunjang penampilan itu berawal sebagai pelindung lumpur. Menurut sejarah, sepatu dengan hak tinggi itu sudah dibuat pada abad IV SM di Turki yang dikenal dengan sebutan chopine yang beralas datar. Penggunaan chopine ini tergantung keperluan, semakin tebal lumpur dijalan maka semakin tinggi sol sepatu yang dipergunakan. Sekitar tahun 1600, Chopine di Venesia mengalami perkembangan dengan meninggalkan bentuk yang kaku. Rendah dibagian depan dan tinggi dibagian tumit. Meski mulai bergeser menjadi sedikit berbau fashion tetapi masih bertujuan untuk melindungi ujung pakaian mereka dari air yang tergenang di jalan.
Seiring berjalannya waktu, high heels mengalami modifikasi yang cenderung bergeser mengarah kepada fashion. Seperti perkembangan pada tahun 1950-an dikenal dengan model Stiletto yang memiliki ukuran hak 10 cm (4 Inch) dengan ujung hak yang kecil. Silih berganti model dari kotak (blok)pada tahun 1970-an hingga akhir tahun 1980-an, pada tahun 1990-an dengan model runcing (tappered) lantas kembali muncul model yang lebih tipis seperti belati (Stiletto) pada tahun 2000-an hingga sekarang. Pemikiran tentang high heels pun terus berubah. Perempuan yang menggunakan high heels cenderung dianggap anggun. Bahkan semakin tinggi high heels maka semakin anggun perempuan yang menggunakannya.
Okobo-Jepang, abad 18 – sekarang
Lama sebelum tahun 1970an dan sepatu platform lahir, para maiko (geisha magang) selalu mengenakan Okobo atau bakiak. Alasan mengenakannya semata-mata bukan hanya demi alasan fashion semata, namun juga untuk alasan praktis. Mereka mengenakan Okobo karena tak ingin kimono mahal yang dikenakan jadi kotor akibat lumpur jalanan. Okobo dibuat dari sebatang kayu yang dibentuk menyerupai tapak sepatu. Biasanya kayu tersebut diselesaikan apa adanya, namun banyak juga yang bahkan tak dipernis sama sekali.
Namun, selama musim panas, maiko biasanya mengenakan Okobo hitam yang telah dipernis. Tinggi sepatu Okobo umumnya mencapai 14 cm, dan sol kayunya diukir cekung, sehingga menimbulkan bunyi tersendiri ketika dipakai berjalan. Faktanya, kata Okobo sendiri diambil sebagai perwakilan dari bunyi yang timbul saat sepatu dipakai jalan. Bentuk tali A V (mirip sandal jepit) biasanya dipilih, sedangkan warna talinya disesuaikan dengan status maiko. Untuk maiko baru akan mengenakan Okobo tali merah, sedang yang hampir menyelesaikan magangnya menggunakan tali kuning.
Namun, selama musim panas, maiko biasanya mengenakan Okobo hitam yang telah dipernis. Tinggi sepatu Okobo umumnya mencapai 14 cm, dan sol kayunya diukir cekung, sehingga menimbulkan bunyi tersendiri ketika dipakai berjalan. Faktanya, kata Okobo sendiri diambil sebagai perwakilan dari bunyi yang timbul saat sepatu dipakai jalan. Bentuk tali A V (mirip sandal jepit) biasanya dipilih, sedangkan warna talinya disesuaikan dengan status maiko. Untuk maiko baru akan mengenakan Okobo tali merah, sedang yang hampir menyelesaikan magangnya menggunakan tali kuning.
High heels untuk pria-Eropa, tahun 1700 an
Tahun 1700an, stoking menempati posisi yang sama pentingnya dengan sepatu bagi para pria di Eropa. Sebab fashion saat itu berfokus pada kecantikan area tubuh bagian bawah. Saat 'demam' penampilan kaki ramping tiba-tiba mewabah, Louis XIV kemudian tampak mengenakan sepatu high heel bersol merah. Dan tentu saja, ketika sang raja mengenakannya, maka tak lama kemudian seluruh rakyat pun turut mengikuti tren tersebut.
Kabkabs-Libanon, abad 14-17
erak yang menghiasi cekungan kayu, itulah arti sederhana Kabkabs atau nalins yang pernah dipakai wanita Timur Tengah untuk melindungi kaki mereka dari kotornya debu dan lumpur jalanan. Bagi mereka yang kaya raya, seringkali sepatu kayu ini dihiasi dengan mutiara. Dengan tinggi hak beberapa inci serta sulaman kulit, sepatu ini biasanya dibikin dengan tali pengikat yang terbuat dari sutra atau beludru.
Nama Kabkabs sendiri diperoleh dari bunyi yang ditimbulkan alas kaki ketika dipakai berjalan di atas lantai marmer. Bagian atasnya disulam dengan perak, emas, atau kawat pewter (campuran timah putih dan hitam). Untuk acara khusus seperti pernikahan, cekungan kayu tersebut biasanya dihiasi seluruhnya dengan perak. Sedangkan secara sosial, sepatu ini hanya dipakai oleh kaum wanita saja.
Sepatu kulit pohon-Finlandia, pertengahan abad 20
Nama Kabkabs sendiri diperoleh dari bunyi yang ditimbulkan alas kaki ketika dipakai berjalan di atas lantai marmer. Bagian atasnya disulam dengan perak, emas, atau kawat pewter (campuran timah putih dan hitam). Untuk acara khusus seperti pernikahan, cekungan kayu tersebut biasanya dihiasi seluruhnya dengan perak. Sedangkan secara sosial, sepatu ini hanya dipakai oleh kaum wanita saja.
Sepatu kulit pohon-Finlandia, pertengahan abad 20
http://listverse.files.wordpress.com/2010/08/neversko.jpg?w=440&h=286
Pada permulaan abad 20, para wanita mengenakan kulit kayu sebagai alas kaki sehari-hari, tentunya dengan lapisan kain pada bagian dalamnya. Tak hanya itu, kain juga digunakan untuk melindungi lapisan kulit sepatu dari hujan, lumpur, dan salju. Biasanya sepatu ini dibuat dari kulit pohon Birch, namun bisa juga dari kulit pohon kapur atau linden (daunnya berbentuk hati). Norwegia, Swedia, dan bahkan Rusia memiliki versi masing-masing untuk jenis sepatu ini. Masa hidup sepatu kulit pohon tersebut biasanya hanya sekitar 1 minggu saja. Chopines-Italia, 1580-1620
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTypZ3zT516lcjUqhzOcl_Bwpmgmal0RoD4R0-JFYBZ1vUumhKPWKh7vz7HNlJ2uY3ynFOh1JiHERLijgfhjprHwuzaekprXHbSd7JNcpjmq37U9YLIk-B55_yivRiNhJO8fRaAMZ9F-AE/s640/pink_chopine.jpg
Hanya sedikit museum yang menyimpan Chopines asli. Meski debutnya dimulai sejak masa renaissance, namun banyak wanita Italia yang masih mengenakannya hingga permulaan abad 17. Seperti Okobo Jepang, Chopines juga memiliki tingkat kepraktisan tinggi. Tujuan utama penggunaan sepatu ini adalah agar penggunanya tampak menyolok sebab mampu 'mengangkat' tubuh pemakai hingga 18 cm lebih tinggi. Sepatu bernilai mahal ini dibuat dari kayu yang dilapisi dengan sutra lembut atau beludru. Selain itu, alas kaki ini biasanya juga dipermanis dengan penambahan renda perak, paku payung, dan sulaman sutra.
Padukas -India, tahun 1700an
Padukas -India, tahun 1700an
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRw_EbPPk8IKzSa08kL6qfRNxj94ksEq5g6nxA9g3Av2vK_YtmLLbDfykWr
Padukas termasuk alas kaki tertua dan mewah di India. Lebih dari sekedar sol dengan tonggak dan kenop, alas kaki ini umumnya dibuat dari bahan perak, kayu, besi, atau bahkan gading.
Sepatu kayu untuk sang pengantin-Perancis, akhir abad 19
Sepatu kayu untuk sang pengantin-Perancis, akhir abad 19
http://listverse.files.wordpress.com/2010/08/ori_rub_105.jpg?w=440&h=330
Dari lembah Bethmale (sebelah selatan kota Saint Girons, distrik Ariege), muncullah sepatu pengantin unik ini. Dibuat dari sebongkah kayu yang diambil dari pohon walnut beserta akarnya, para pria biasa menciptakan sepatu ini untuk calon pengantinnya kelak. Dikatakan bahwa semakin tinggi ujungnya, maka semakin besar pula rasa cinta sang pria pada calon istrinya.
Ballet boot-1980an-sekarang
Ballet boot-1980an-sekarang
http://sneakersandshoes.files.wordpress.com/2008/12/ballet_boots_pantent.jpg?w=590
Alas kaki kontemporer ini mulanya dipakai sebagai jimat saja, namun seiring waktu berjalan, alas kaki ini semakin terkenal dalam dunia fashion, khususnya Jepang. Struktur sepatu ini mirip dengan sepatu balet yang dibumbui dengan hak super tinggi, sehingga tercipta kesan bahwa pemakainya dipaksa untuk berjinjit setinggi mungkin seperti yang dilakukan para balerina saat sedang menari. Ballet boot ini memperoleh popularitasnya pada tahun 1980an, dan sekarang tersedia di seluruh dunia.
Sepatu kuncup teratai-China, abad 10-tahun 2009
http://funfunfashion.files.wordpress.com/2011/01/5444-9-listverse.jpg?w=640
Tradisi Han di China yang mengharuskan kaki wanita diikat sehingga tampak kecil seperti kuncup teratai ini berlaku selama ribuan tahun. Sepatu dari wilayah utara, khususnya Beijing, memiliki bentuk mangkuk, dengan sol super cekung. Sebagai bagian dari mas kawinnya, seorang wanita akan membuat beberapa pasang sepatu sebagai bukti bahwa ia mampu menjahit. Setelah menikah, mempelai lalu membagikan sepatunya pada saudari ipar dalam upacara khusus. Untunglah kejayaan sepatu mungil tersebut telah berakhir...
Sepatu Armadillo
Sepatu Armadillo
http://img.splendora.com/files/AlexArmadillo.jpg
Armadillo sendiri berarti binatang pemakan serangga. Baru-baru ini, di tahun 2010, Alexander McQueen meluncurkan satu set sepatu armadillo yang kemudian dipopulerkan oleh Lady Gaga dan beberapa selebriti lainnya.
Kebanyakan wanita gemar memakai high heels, karena membuat mereka tampil anggun dan menarik. Namun, memakai high heels ternyata memiliki dampak negatif pada tubuh. Ketika Anda melangkah satu kali dengan menggunakan high heels, 25% dari berat badan harus disangga oleh kaki. Normalnya, 50% berat tubuh disangga oleh tumit, 15% oleh ibu jari, 35% oleh sisanya. Saat Anda menggunakan high heels, berat badan tubuh yang tidak disangga dengan semestinya, yang pada akhirnya akan menyebabkan nyeri atau sakit pada kaki.
Yang paling sering terjadi adalah bengkak pada jari kaki hingga menyebabkan peradangan, terutama ibu jari. Ketika pusat gravitasi bergerak maju ke arah ujung kaki, jempol kaki akan membagi tumpuannya pada kaki kedua, dalam jangka waktu lama hal ini dapat menyebabkan jaringan dikitarnya membengkak dan meradang. Apabila menyadari terjadi pembengkakan ringan pada ibu jari, efek pembengkakan lebih lanjut bisa diatasi dengan mengganti sepatu.
Pembengkakan pada ibu jari memiliki tingkat kekambuhan rendah setelah osteotomy, yakni dengan meluruskan tulang ibu jari dan jaringan di sekitarnya, dan setelah dua atau tiga bulan masa penyembuhan, Anda bisa kembali mengenakan sepatu biasa. Untuk menghadiri hal tersebut, sebaiknya gunakan high heel dengan tinggi tidak lebih dari 5 cm atau tidak menggunakan high heels selama lebih dari dua jam. Karena high heels memaksa massa tubuh untuk bergerak ke depan, hal tersebut akan berefek tidak hanya pada kaki tapi juga tulang belakang karena saat menggunakan high heels, kerja tulang belakang akan berat untuk menjaga keseimbangan. Gangguan keseimbangan akan berakibat pada nyeri atau sakit pada tulang belakang dan sciatica atau linu pinggul.
Tips memeilih high heels yang sesuai dengan anda dan supaya gak rugi beli high heels yang mahal tapi ternyata gak cocok sama kaki kita :
- Carilah sepatu yang ukurannya pas dan cukup untuk membiarkan jari Anda bergerak bebas. Meski ini terlihat sepele, tapi cobalah untuk mengingat, berapa banyak sepatu berhak tinggi yang Anda miliki di rumah yang jika dikenakan, terdapat jarak di bagian belakang tumit dengan penutup sepatunya? Jika sepatu terlalu besar, tak jarang Anda akan menumpu seluruh badan di bagian depan jari-jari kaki.
- Bantalan. Banyak sepatu yang terlihat cantik, tapi ketika dikenakan, akan membuat bola kaki terasa sakit. Anda bisa mencoba membeli bantalan khusus untuk sepatu yang kini sudah ada banyak di pasaran. Ada pula yang khusus untuk sepatu hak tinggi, bentuknya seperti gel, untuk ditaruh di bagian bola kaki. Fungsinya untuk meredam tumpuan tubuh agar tidak membuat kulit kaki Anda kapalan atau lecet.
- Hak sepatu yang tebal bisa memberikan Anda kestabilan lebih baik, bahkan membantu mengurangi tekanan karena membantu menyebarkan berat tubuh yang tertopang di bagian tersebut lebih luas.
- Perhatikan sudut kemiringan sepatu akibat tinggi hak sepatunya. Untuk sepatu yang tinggi haknya hingga 10 cm bagian yang terlepak di bawah telapak mungkin masih bisa menopang. Tapi, jika lebih dari itu, maka kaki akan terlalu menjinjit, dan ini tidak baik jika Anda harus mengenakan sepatu tersebut dalam waktu terlalu lama.
- Kenakan sepatu yang bagian depannya terbuka untuk mengurangi tekanan pada kaki, sekaligus mencegah kuku kaki terjepit, juga kaki kapalan.
Sumber :
(25/12/11 19:34 s.d 20:32)













Tidak ada komentar:
Posting Komentar